Letakan Harga Diri Pada Tempatnya

REKOMENDASISANTAI

Muhammad Nabhan Fajruddin

6/7/20264 min baca

Sudah menjadi hukum alam, manusia hidup dalam realitas sosial dengan kehidupan berkelompok atau berserikat. Di era yang serba digital, manusia berekspresi tidak hanya melalui komunitas atau kelompok saja, tetapi juga melalui sosial media yang membuatnya saling terhubung. Sosial media memberikan ruang berekspresi dan sarana pencitraan untuk mendapatkan validasi dari masyarakat. Berbagai pencapaian, kesalihan, kecantikan, popularitas, pangkat, jabatan, kecerdasan, kekuasaan, menjadi hal yang sering ditayangkan di masing-masing profil media sosial. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa manusia sejatinya adalah makhluk yang butuh validasi atas apa yang menjadi harga dirinya.

Tidak jarang kita jumpai di sosial media, banyak orang flexing kekayaan, pencapaian, jabatan, kekuasaan, kecantikan, kebaikan, kepintaran dan hal-hal lainnya. Fenomena tersebut muncul selain karena manusia adalah makhluk yang butuh validasi, tetapi juga disebabkan karena desain media sosial sangat mendukung kepuasan validasi karena ada fitur like dan followers. Citra yang dibangun di sosial media dapat menjadi representasi manusia menaruh harga diri pada aspek dan bidang mana. Hal ini didukung teori Self-Discrepancy Theory, bahwa manusia hidup pada realitas ideal dan realitas sebenarnya, serta cenderung menaruh harga dirinya pada realitas ideal. Biasanya realitas tersebut berusaha dibangun dan ditampakkan melalui media sosial.

Realitas ideal dalam teori Contingencies of Self-Worth yang dikembangkan Jennifer Crocker, mengarah pada sesuatu yang dianggap penting atau kebanggaan. Teori Contingencies of Self-Worth menjelaskan bahwa harga diri seseorang tidak berdiri bebas tetapi bergantung pada sesuatu yang dianggapnya penting. Sering dijumpai rasa tersinggung dan marah terjadi karena sudah menyentuh ranah-ranah sakral dan penting. Misalnya si A menaruh harga diri pada aspek kekayaan, ketika disinggung bahwa ia masih miskin maka si A akan marah dan berpotensi konflik. Artinya manusia memiliki keragaman peletakan harga diri yang mereka anggap penting. Hal ini membuat rasa tersinggung manusia juga berbeda-beda, misalnya si A tersinggung karena dihina miskin, sementara si B dan si C biasa saja. Ini juga menegaskan mengenai way of life atau tujuan hidup manusia juga berbeda-beda.

Laiknya realitas di dunia yang serba bertentangan, ada siang ada malam, ada terang ada gelap, ada panas ada dingin, teori Contingencies of Self-Worth juga memiliki sisi positif dan sisi negatif. Melalui teori peletakan harga diri pada bidang tertentu, artinya kompleksitas pada dirinya sudah direduksi ke dalam satu aspek tertentu. Hal itu membuat manusia menjadi rentan, manusia akan melambung setinggi langit apabila berhasil dalam bidang yang merepresentasikan dirinya. Sebaliknya, akan terpuruk dan marah ketika harga dirinya diusik. Akibatnya, manusia tidak tenang dalam menjalani hidup, karena bergantung pada validasi yang dilontarkan oleh orang lain tentang “harga dirinya”. Apalagi di era sosial media, seolah manusia dikontrol oleh FYP atau konten yang sedang viral, yang membuat manusia terbawa arus dan kehilangan dirinya.

Di sisi lain, meletakkan harga diri pada bidang tertentu tidak selamanya negatif. Sering kali, melalui peletakan harga diri pada bidang tertentu membuat manusia termotivasi untuk mewujudkan realitas idealnya. Ketika seseorang merasa bahwa keberhasilannya di suatu bidang berkaitan dengan nilai dirinya, ia akan terdorong untuk berusaha lebih keras dan konsisten. Peletakan harga diri juga membantu manusia membangun identitas. Ia mengetahui apa yang penting bagi dirinya, melalui kesadaran itu, manusia dapat menyusun arah hidup. Tanpa adanya keterikatan pada nilai tertentu, seseorang bisa kehilangan semangat untuk mencapai tujuan. Oleh karenanya, Contingencies of Self-Worth memberikan pemaknaan terhadap hidup, bahwa hidup membutuhkan bahan bakar berupa motivasi untuk sampai pada realitas ideal.

Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan interaksi dan saling bergantung satu sama lain. Realitas ideal personal pasti bergantung pada lingkungan sekitar yang memiliki realitas ideal dalam lingkup komunal. Di mana manusia meletakan harga diri juga berdasarkan realitas ideal yang berada di lingkungan hidupnya. Artinya lingkungan adalah salah satu faktor penentu terbentuknya realitas ideal. Namun di era teknologi dengan keterbukaan akses informasi, referensi mengenai di mana harus meletakan harga diri, terbuka lebar. Tergantung kesadaran literasi dari masing-masing individu dalam bertumbuh lebih baik. Oleh karenanya, agar tidak salah meletakan harga diri dan kekeliruan memaknai konsep tersebut, maka perlu kesadaran literasi di era teknologi ini untuk tumbuh lebih baik.

Sebagai makhluk yang berpikir, manusia seharusnya dapat mengambil pelajaran dari kesalahan atau masalah yang datang. Sisi negatif dari teori Contingencies of Self-Worth yakni menyederhanakan harga diri dalam satu bidang yang dianggap penting, sehingga jika disinggung muncul amarah dan menyebabkan konflik. Artinya faktor eksternal sangat menentukan rasa marah pada manusia. Oleh karenanya, alternatif solusinya adalah membangun harga diri yang lebih internal. Nilai-nilai yang tertanam dalam diri seperti kejujuran melihat diri sendiri dan memaknai hidup cenderung lebih stabil dibandingkan pengakuan eksternal. Ketika seseorang berakar pada nilai-nilai itu, tidak mudah goyah oleh penilaian orang lain. Dalam filsafat Stoiksisme, fokus pada yang bisa dikendalikan oleh diri dan hiraukan faktor eksternal yang tidak bisa dikendalikan.

Pada akhirnya, dalam sudut pandang falsafah Jawa yang berpegang pada “kesederhanaan” merupakan solusi untuk mengelola teori Contingencies of Self-Worth atau peletakan harga diri. Kutipan Serat Centhini, yakni “sugih tanpa banda, digdaya tanpa aji.” Dua ungkapan ini bukan sekadar permainan kata, melainkan kritik mendalam terhadap cara manusia menilai diri. Kekayaan tidak lagi diukur dari apa yang dimiliki, dan kekuatan tidak lagi ditentukan oleh apa yang ditampilkan. Dalam pandangan ini, manusia diajak untuk menata ulang letak harga dirinya, dari yang semula bergantung pada harta, jabatan, dan pengakuan, menuju kecukupan batin dan kedewasaan diri. Sebab ketika harga diri digantungkan pada sesuatu yang tampak, akan mudah goyah. Namun ketika ia berakar pada nilai kebijaksanaan internal dalam diri, maka diri akan menjadi tenang dan tidak mudah terguncang. Dengan begitu kita akan menjadi manusia yang relevan dengan falsafah Jawa yang tidak mudah kagum atau senang dengan kesuksesan dan tidak mudah terkejut atau sedih dengan kegagalan (ojo gumuman lan ojo kagetan).

MAHASISWAKALONGAN

Media Anak Muda untuk Komunitas, Pelajar dan Mahasiswa Pekalongan

hubungi kami

bERLANGGANAN

hallo@mahasiswakalongan.com

Made with Mahasiswakalongan Makal © 2025. All rights reserved.